• Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

    Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

IWAPI Cabang Bali Bertekad Meneruskan Pembinaan Pedagang Acung.

Oleh : Gede Pringgana

MINGGU, 15 JUNI 1980, KARYA BHAKTI, Edisi Pedesaan,     

    Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) cabang Bali, akhir Mei lalu menyelenggarakan Pameran kerajinan Tangan di Hotel Gasebo Sanur selama tiga hari. Kerajinan tangan tersebut hasil karya pedagang acung yang sebelumnya mendapatkan bimbingan dari pihak IWAPI dalam waktu relatif singkat. Kerajinan tangan hasil karya pedagang acung itu dibuat seperti burung-burungan, binatang-binatang, bunga-bungaan dan bentuk-bentuk lainnya yang bahannya dari kerang laut. Kerang laut itu dikumpulkan oleh pedagang acung itu sendiri didapatnya disepanjang pantai Sanur.

    Para pedagang acung yang selalu dikejar-kejar atau diusir oleh petugas hotel disanur maupun di Kuta itu, ternyata bias diarahkan dan ditertibkan berkat cara-cara yang dilaksanakan pihak IWAPI.

IWAPI melangkah ke pembinaan pedagang acung tersebut terasa seperti menghadapi permasalahan yang agak rumit namun berkat ketbahan,ketekunan dan keihklasan hatinya pihak IWAPI yang dari ibu-ibu itu berhasil pula menciptakan pembinaan yang Nampak cukup memuaskan.

“Sebetulnya, kata Ketua I IWAPI Cabang Bali, Nyonya Nuke Yahya, para pedagang acung itu manusia yang ulet, bertanggung jawab atas tuntutan hidupnya hanya satu hal yang kurang terpuji petugas hotel ialah kesopanannya dan ketertibannya didalam menjual barang-barang dagangannya kepada wisatawan”.

Atas pandangan petugas hotel itulah mereka diusir-usir dengan alasan supaya jangan mengganggu ketenangan para tamu-tamu hotelnya baik asing maupun donestik. Tetapi dilihat dari sudut kemanusiaan segala yang telah terjadi atau yang dialami pihak pedagang acung itu sebenarnya tidaklah demikian dan langkah-langkah yang dilaksanakan pihak petugas hotel tersebut kalau bias dikatakan juga kurang terpuji.

Maka itulah IWAPI yang rata-rata berperasaan tebal mengambil langkah-langkah pembinaan kepada pedagang acung agar jangan mereka sampai dikatakan lagi sebagai manusia yang kurang tertib dan kurang trampil didalam perkembangan kepariwisataan di Pulau Dewata ini.

PERINTIS.

Langkah yang telah dilaksanakan pihak IWAPI terhadap pedagang acung tersebut sebetulanya merupakan perintis pertama, karena sebelumnya belum pernah dilaksanakan oleh pihak-pihak lain.

Guna menunjang keberhasilan IWAPI Cabang bali yang usianya masih muda ini perlu mendapatkan sumbangan morildari pihak-pihak lain yang lebih tahu jalan yang lebih baik dari apa yang telah diketemukan pihak IWAPI Cabang Bali.

IWAPI telah melaksanakan pembinaan dengan tujuan meningkatkan keterampilan kesopanan, cara-cara melakukan usaha guna meningkatan perekonomiannya dan lain sebagainya. Melalui pembinaan itu para pedagang acung berhasil menciptakan karyanya yang bisa mencapai harga Rp.1.500,- keatas yang pengerjaannya kurang dari setengah hari tanpa modal karena bahannya yang diambil dari pantai. Iaya pembinaan yang diselenggarakan pihak IWAPI Cabang Bali ini cukup banyak yang diperoleh dari para anggotanya dengan menyumbang secara sukarela.

Ketua Umum IWAPI Cabang Bali, Nyonya Mertami Utaya dengan didampingi Sekretarisnya nyonya Riyasa mengatakan baru-baru ini, IWAPI Cabang Bali tidak saja melaksanakan pembinaan kepada pedagang acung dalam hal pendidikan mentalnya saja, namun berusaha pula untuk memasarkan hasil karyanya.

 


Hasil karya pedagang acung dibuat dari kerang laut seperti bunga-bungaan, burung-burungan dipajangkan ditembok ketika pameran. Nampak Ny. Rahayu Sitompul paling kiri sponsor IWAPI, Ketua I IWAPI Cabang Bali, Ny. Nuke Yahya dan tiga orang pedagang acung yang dibina IWAPI. (Foto : Pring)

 

Langkah-langkah pemasarannya telah dilaksanakan ke semua hotel besar di Bali dan sanggup akan membeli hasil kerajinan tangan para pedagang acung, sehingga pembinaan bisa mencapi tujuan akhir yaitu membantu meningkatkan usaha mereka.

Sedangkan bagi para pedagang acung yang belum mendapatkan giliran pembinaan akan diteruskan pula secara bertahap,dengan tekad semua pedagang acung yang berada di Bali dapat dibina dan dibantu, walaupun pelaksanaannya secara bertahap.

Kalau semua pedagang acung yang ada di Bali ini berhasil ditingkatkan pengetahuannya terutama didalam keterampilan dan kesopanannya didalam melakukan penjualan barang-barang dagangannya kepada wisatawan, maka kepariwisataan di Bali tidak akan menghadapi tantangan dari pedagang acung, kata Nyonya Riyasa.

silahkan tinggalkan pesan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: