• Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

    Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

Berbincang-bincang di Pantai Sanur

  • Nelayan dan pedagang ikan sama-sama memberikan kemudahan
  • Tidak mengenal sistim ijon

 

Pantai Sanur yang merupakan salah satu obyek wisata di Bali selalu dikunjungi oleh banyak wisatawan baik domestik maupun asing dari segala penjuru dunia, namun diantara keramaian para pengunjung itu terlihat pula suatu pola kehidupan masyarakat asli.

Pola hidup dengan profesi khas itu selalu bisa menyesesuaikan diri dengan perkembangan jaman dan tak kan terpengaruh dari pola hidup baru baik datangnya dari dunia belahan Barat apalagi hanya di Indonesia saja.

Kalau bisa disebutkan dgn kata lain, pola hidup itu adalah tradisionil yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip perekonomian.

Pola hidup itu adalah saudagar ikan, menadah hasil tangkapan nelayan yang baru turun dari laut. Saudagar itu adalah terdiri dari ibu-ibu penduduk asli desa Sanur.

Mereka menekuni profesi itu, pertama-tama karena tuntutan ekonomi atas keluarganya dilandasi dengan rasa tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dan mengerti dengan tanggung jawab bersama dengan sang suami sehingga tidak selalu mengandalkan suaminya mencari nafkah. Di Bali merupakan hal yang biasa kalau para ibu ikut bekerja keras seperti suami khususnya para ibu yang kelahiran asli Bali.

Mereka baru-baru ini menggabungkan diri kedalam suatu kelompok dengan perjanjian tanpa surat, hanya dengan perundingan lisan dan kini telah menunjukkan persatuan kuat, dalam anti sistim perekonomian yang diterapkannya tidak melakukan sistim mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya, tetapi menterapkan sistim sama-sama memberikan kemudahan diantara mereka dengan para nelayan penangkap.

Kemudahan-kemudahan yg dimaksudkan disini adalah, para nelayan yang baru turun dari laut membiarkan ikannya diambil oleh pedagang-pedagang ini tanpa melakukan tawar-menawar, namun para nelayan yakin bahwa ikan yg diambilnya itu pasti akan dibayar sesuai harga pasaran. Apakah ibu mengenal sistim ijon ? Apa itu ijon tanya mereka kembali. Setelah dijelaskan bahwa pengijon dalam hal ini adalah orang-orang yang mem berikan uang dulu kepada penangkap dan hasilnya harus dijual kepada pemberi uang dengan harga yang ditentukan pembeli, ia spontan menjawab kalau cara itu diterapkan menurut mereka sistim ijon tidak mengenal pri kemanusiaan. Dan mereka mengatakan kebetulan tidak mempunyai uang untuk dipakai main ijon.

 

SABAR MENUNGGU

Biasánya pekerjaan menunggu itu sangat berat dan hal ini hampir banyak orang pernah merasakannya. Akan tetapi pedagang ikan ini tidaklah merasakan bahwa kerja menunggu itu berat, karena sudah merupakan kebiasaan.

Mereka duduk dipantai sambil mencari kutu diantara mereka, sementara menunggu kedatangan nelayan dari laut.

Berapa lama mereka menunggu ? Kalau nelayan mulai turun pagi sekitar pukul 06.00 dan kembali sekitar pukul 12 sampai pukul 13.00 berarti mereka melakukan pekerjaan menunggu berjam-jam Pekerjaan menunggu ini dilakukannya setiap hari.

Ketika ditanya, apakah ibu tidak bosan menunggu terlalu lama? Rasa bosan itu hampir pernah ada disetiap pribadi orang, tetapi bagi mereka bisa lepas dari belenggu rasa kebosanan karena berprinsip harus sabar menunggu sesuatu yang diharap-harapkan.

Lebih jauh mereka mengatakan, menunggu kedatangan nelayan yang diperkirakan pasti mendapat ikan, rasa bosan bisa dilenyapkan dengan bayangan jenis ikan yang diperoleh nelayan. Tetapi sering terjadi ujarnya, harapan menjadi hampa bila nelayan kembali kosong, sehingga pada saat-saat seperti itu mereka menarik nafas panjang. Namun tidak kecewa karena mereka berpendapat bahwa “sebagai manusia selama hidup pasti saja menjumpai kerugian kalau dalam soal dagang, mungkin karena itu timbul kata untung”.

Kalau selalu diberikan keuntungan saja maka hal yang begitu itu akan membuat manusia loba dan malas serta tidak mau kreatif, ujarnya mereka sambil tertawa bercekikikan.

Pemasaran ikan-ikan tersebut ke pasar Badung dan Kreneng Denpasar disamping dijual ke pedagang-pedagang di warung-warung, restaurant bahkan sampai ke hotel-hotel.

Ikan-ikan yang dibeli itu bukan saja nelayan asal desa Sanur tetapi diperolehnya pula dari nelayan asal Jungut-Batu dan Lembongan Nusa Penida, yang biasa berlabuh di pantai Sanur.

 

Mengapa ibu tidak menggunakan waktu untuk kegiatan
lain sementara menunggu kedatangan nelayan penangkap? Menjaga kemungkinan pak, jawabnya dengan menambahkan apabila nelayan datang cepat karena mendapat ikan besar. Dan kalau ditinggal begitu saja mereka akan menunggu kita yang mengorbankan waktunya untuk kembali menangkap lagi, katanya.

(Pringgana).

 

 

 

Para Ibu saudagar yang beroperasi di pantai Sanur nampak masing-masing membawa iakan yang diambilnya dari jukung yang baru datang dan diantaranya ada yang menggaruk paha mungkin karena gatal kena air laut. ( Foto : Pr ).

Satu Tanggapan

silahkan tinggalkan pesan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: