• Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

    Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

Ir. Suarni Kepala STM Dan Dekan FIP Saraswati : Mendidik Sama Dengan MengolahBahan Mentah Dan GuruAdalah Suatu Model

KARMA BHAKTI    MINGGU 30 AGUSTUS 1981

 

Penampilan seseorang merupakan suatu cermin. Dari gerakan dan tata cara berbicara serta kesopanan bagi seseorang mewarnai kepribadian. pakah dengan variable2 itu mutlak dapat diambil suatu analisa bahwa seseorang itu baik atau tidak ? Memang, sesuatu itu bisa tumbuh secara berlawanan. Misalnya, penampilan baik belum tentu orangnya baik, tetapi hampir 99,9 persen kebaikan seseorang itu nampak dari penampilannya. Sehingga sebagian besar orang menganalisa kepribadian seseorang, dalam rangka menghindari diri dari bentuk2 pergaulan yang merugikan. Tetapi, bagi seorang guru yg profesinya membina dan menuntun anak-anak murid agar menjadi manusia yg berguna bagi Bangsa dan Negara itu, akan lebih banyak tahu tentang kebenaran baik atau buruk, diteliti dari penampilan anak didiknya. Penulis pernah mendengar, bahwa seribu kepala seribu pendapat. Nah, untuk dapat menyamakan pendapat dari seribu kepala itu memerlukan suatu cara2 tertentu yang bukan saja dgn menggunakan teori tetapi diperoleh pula dari pengalaman.

Landasan pemikiran tersebut, penulis berusaha mengkaitkannya dengan pendidik dari berbagai lapisan. Dan belakangan ini, dikaitkan dengan pandangan seorang sarjana yang kebetulan menekuni profesi sebagai guru, yaitu Ir. Suarni. Sarjana ini adalah alumni dari Fakultas Tehnik Kimia jurusan Bahan Makanan jeblosan Universitas Gajah Mada. Mengawali pembicaraannya, Ir.Suarni mengatakan, bahwa ia sejak tahun 1969 menjabat sebagai Kepala Sekolah Tehnik Memengah (STM) Perguruan Rakyat Saraswati Denpasar. Jabatan sebagai Kepala Sekolah Tehnik itu kini telah 12 tahun sesuai dengan umur STM tersebut. Sebelum ia melanjutkan pembicaraannva tentang bagai mana pengalaman yang dapat ditimbanya melalui jabatan sebagai Kepala STM tersebut, ia mendahului berceritra mulai dari tamat diperguruan Tinggi di Jogyakarta. Tahun 1965 ia menggunakan ijazah sarjananya untuk mendapatkan pekerjaan di Laboratorium Kimia Surabaya yang sesuai dengan jurusan yang diperolehnya selama diperguruan tinggi. Kesannya, bahwa bekerja di dalam suatu Laboratorium nembosankan, karena mengolah bahan mati. Itu-itu saja, ujarnya menambahkan.setelah empat tahun bergelut dengan Laboratorium mempraktekkan teori yang dikantonginya, ia kembali ke Bali tempat anal kelahirannya.Sesampainya di Bali, ia menemukan lapangan pekerjaan baru yang belum pernah ia impikan dan bukan tujuan atau cita-citanya. Lapangan pekerjaan tersebut adalah guru. Bahwa ia langsung mendapat kepercayaan untuk memimpin STM Saraswati dengan jabatan Kepala Sekolah. Waktu itu tahun 1969 saat berdirinya STM Saraswati. Dalam hatinya, kenapa kok bisa sebagai guru ? Pertanyaan tersebut dijawabnya sendiri. Kita coba2 saja, mudah-mudahan berhasil, karena keberhasilan itu tergantung pula dengan ketekunan dan kesabaran dan berani mengbadapi segala tantangan yang mungkin terjadi. Tekad dengan coba2,yang memang merupakan cirri khas orang Bali walaupun sudah akan mampu itu; sangat mendorong keberhasilan sekolah yang dipimpinnya. Ketika itu murid yang mendaftar di STM sebanyak 45 orang dengan jurusan mesin semuanya. Sampai ke klas tiga anak muridnya tinggal 35 orang. I Sekolah kejuruan sekitar jaman itu memang nampaknya merosot yang bukan saja di sekolah-sekolah swasta, tetapi juga di sekolah negeri. Terjuanya sebagai seorang guru yang memainkan peranannya sebagai pembina dan mengatasi masalah-masalah yang timbul dari watak-watak beraneka ragam manusia itu, banyak memberikan suatu pelajaran yang akan diambil sebagai suatu bahan untuk berbuat lebih baik guna dapat memberikan pendidikan kepa da anak-anak murid. Suka duka yang dihadapi sebagai seorang guru, memang terletak pada pendidikan mental bukan saja meneruskan atau pemupukan ilmu pengetahuan tetapi bagaimana supaya para siswa mau menerima pelajaran yang diberikannya.Dar tahun-ketahun dengan tantangan yang dihadapinya itu ia menemukan suatu rumus pemecahan masalah yang timbul dari kalangan anak-anak murid. Rumus yang dipakainya adalah “pendekatan kepada para siswa yang nakal”.Dalam melakukan pendekatan itu, diusahakan mewawancarainya dengan penuh pujian, sehingga anak-anak tersebut tanpa disadarinya membuka sifat-sifatnya. Dalam kesempatan yang terbuka itu dimasukkan pengertian-pengertian yang mampu untuk mengatasi masalahnya yang mungkinakan menghambat nasib anak tersebut dimasa-masa mendatang. Dengan cara pendekatan itu, anak-anak murid akan
menjadi malu, sehingga mau tidak mau tidak berani lagi berbuat sesuatu yang meresahkan. Setelah kita memiliki suatu slat untuk membina seseorang murid yang tidak dapat disamakan dengan siswa-siswa lainnya maka pendekatan-pendekatan itu selalu diadakan kepada setiap siswa. Bilamana perlu seorang guru
harus mengetahui sifat-sifat muridnya. Bertolak dari pengalamannya itu ia berpendapat bahwa mendidik sama
dengan mengolah bahan mentah menjadi barang jadi. Kalau didalam pabrik, pabrik akan mengolah bahan mentah
supaya menjadi barang jadi. Demikian pula halnya didalam
dunia pendidikan, seorang guru itu seperti pabrik berusaha mengolah orang yg belum memiliki ketrampilan diusahakan menjadi manusia yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan Bangsa dan Negara Berbicara coal cara yang dipakai oleh seorang guru supaya disenangi oleh murid-murid maka guru itu harus tampil sebagai suatu model. Model yang dimaksudkan adalah
suatu contoh-contoh baik, sehingga murid-murid akan mengenal contoh tersebut. Jangan sekali-kali menampil kan suatu model yg termasuk katagori buruk atau janganlah mengenalkan sesuatu yang merugikan kepada para siswa. Dengan suatu model yang baik sebenarnya merupakan suatu modal bagi seorang guru. Ir.Suarni ini juga pernah menjabat sebagai PR III di Perguru an Tinggi Maha Saraswati, ketua jurusan dan Dekan pada Fakultas Ilmu Pendidikan. Penterapannya di dalam perguruan tinggi, ia mengatakan lebih mudah dibandingkan dengan anak-anak di Sekolah Menengah. Perbedaan antara siswa dan mahasiswa berdasarkan pengalamannya adalah begins: para siswa sering berkelahi pukul-memukul dan sejenisnya. Sedangkan di mahasiswa percekcokannya hanya pada pembicaraan. Balas-membalas dengan kekerasan hanya di mulut saja dan tidak sampai terjadi suatu perkelahian.

Mengakhiri wawancaranya, Ir.Suarni yang nampak dgn kesederhanaannya itu mengharapkan, baik siswa maupun mahasiswa berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti pengarahan-pengarahan guru atau pendidik, terutama di tingkat SLTA kebawah, karena guru tidak mungkin akan memberikan contoh yang buruk. Mudah-mudahan segala pesan dan kesan seorang Insinyur yang mengambil tugas sebagai guru itu ada manfaatnya bagi kepentingan Nusa dan Bangsa.

(Gede Pringgana).

 

 

 

Ir. Suarni ( Foto : Pring )

 

 

Ir. Suarni ketika bersama mahasiswa baru Nampak berusaha mengadakan pendekatan-pendekatan kepada mahasiswa untuk menterapkan teori pendekatannya guna mengatasi segala sesuatu yang tidak diinginkan. ( Foto : Pring ).

Satu Tanggapan

  1. […] Ir. Suarni Kepala STM Dan Dekan FIP Saraswati : Mendidik Sama Dengan MengolahBahan Mentah Dan GuruAd… […]

silahkan tinggalkan pesan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: