• Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

    Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

Kepribadian Tentukan Kehidupan Bangsa

KARYA BHAKTI    MINGGU, 13 SEPTEMBER 1981

 

Oleh : Gde Pringgana

 

Pola dasar pembangunan yg dikumandangkan Orda Baru dengan Trilogi pembangunan dan delapan jalur pemerataan yang berjalan hingga Repelita III sekarang ini adalah untuk menciptakan manusia seutuhnya. Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya itu berarti terciptanya keseimbangan antara pembangunan secara phisik dengan pembangunan mentalitasnya.

Dengan demikian maka tepat sekali ungkapan gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus”Mantra yaitu pembangunan itu sendiri tidak saja menempatkan tujuan kepada pencapaian kesejahteraan masyarakat semata, tetapi sesungguhnya pembangunan merupakan suatu proses ganda.”

Proses ganda tersebut dimaksudkannya, bahwa disatu sisi pembangunan berkehendak mewujudkan kesejahteraan dengan segala bentuk wadah, sarana dan fasilitas kemajuannya,baik dibidang phisik maupun spiritual. Sedangkan disisi lain, menuntut agar senantiasa dapat menumbuhkan satu disiplin dan kesadaran tanggung jawab memelihara segala sesuatu yg telah berhasil dicapai.

Memang sementara itu kekuatan yg paling menonjol, mendorong lancarnya pembangunan itu adalah kenyataan secara phisik yg secara pasti mulai menunjukkan perobahan positif bagi kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Namun disatu hal, masih terasa belum mendapatkan perhatian secara lebih serius untuk menumbuhkan suatu pembangunan yg seimbang yaitu kesadaran, tanggung jawab dan disiplin untuk perawatannya lebih lanjut.

Didalam    mensukseskan pembangunan pada suatu daerah, memang tidak bisa melepaskan sendi-sendi dasar yang merupakan kekhasan. Seperti Bali, dengan seni budaya merupakan kekhasannya sebenarnya jangan sampai terlupakan, kalau menginginkan pembangunan di-daerah ini mencapai tujuan secara nasional. Bagaimana bisa maju dan berkembang, kalau masyarakat yg telah mendarah daging dengan jiwa seni budayanya itu tidak mendukung segala program pembangunan? Justru itulah, segala kekuatan yg dimiliki oleh orang didaerah Bali ini hendaknya dipupuk untuk menuju kepada keberhasilan pembangunan disisi lainnya.

Suatu contoh: Masyarakat di daerah Bali yg mayoritas beragama Hindu dengan adatnya yang kuat itu harus dipupuk secara serius dengan keinginan masyarakat bersangkutan. Setelah mencapai suatu titik maksimal dibidang seni dan budaya maka untuk menunjang program-program dalam bentuk lainnya tidaklah begitu sulit.

Yang penting bagaimana masyarakat bersedia untuk memperjuangkan pembangunan secara nasional? Tentu harus mempelajari dulu sifat-sifat secara keseluruhan yg bisa diteliti; walaupun dengan sample random saja. Setelah mengetahui sifat-sifatnya, kemudian menyimpulkan, kearah mana semangat perjuangannya. Kemudian dicelah-celah itulah memasukkan unsur-unsur pembinaan dan pengarahan demi terlaksananya tujuan bersama dengan tidak melupakan suatu Dharma    berada    diatm

segala galanya.

Jangan emosi ingin mencapai tujuan dengan melupakan Dharma, nanti yang lupa dengan dharma itu bisa berabe Dengan memiliki suatu kepribadian yg teguh, yg tidak dapat tergoyahkan oleh siapa dan    apapun    yg akan mampu mengembangkan dan menumbuhkan nilai khas kehidupan    dan hidup Bangsa Indonesia ini sebagai masyarakat dan manusia Pancasialis.

Menatap    suatu    kenyataan yg    ada dan titik tolak pijakan tersebut, akan    dapat menciptakan suatu keutuhan pada setiap siklus kehidupan ini. Sehingga nantinya akan dapat mencapai suatu keutuhan yg mutlak bagi kehidupan manusia Indonesia dari bentuk sekecil-kecil-kecilnya, sesederhana-sesederhananya sampai kepada satu keutuhan yg memberikan suatu identitas bagi eksistensi Pancasila itu sendiri.

Seni Budaya Bali

Dihadapan    seniman-seniman seluruh Bali, Sabtu    ,tanggal 11 September 1981 di Gedung Jaya Shaba Denpasar, gubernur Bali, Ida Bagus Mantra secara lunak dan menelusuf kesegala pori-pori

kulit    mengingatkan,    “setiap pelaksanaan pembangunan sebaiknya selalu    memberikan bentuk identitas style kepada kekhasan Bangsa, khususnya    Bali    dengan     nilai seni budayanya sebagai tumpuan penonjolan”.

Kalimat tersebut, sebenarnya mengundang suatu analisa yg lebih mendalam lagi, karena proses pengembangan kehidupan bisa dicapai dan diselesaikan dengan baik dan tepat apabila betul-betul

menghayatinya. Memang, menghayati itu nampaknya gampang kalau hanya mengucapkan kata menghayati. Tetapi sebenarnya menghayati itu tidak segampang mengucapkan /menghapalkannya.

Suatu contoh: Kalau menghafal sila-sila didalam Pancasila memerlukan waktu paling lama 10 menit. Tetapi yg penting bagaimana berpikir, berkata dan berbuat supaya kepada semua sila didalam Pancasila? Percaya atau tidak? Tuntunan apa saja yg dikehendaki pasti ada didalam Pancasila. Maka itu jangan mencoba-coba mau berpikir melanggar Pancasila, apalagi berkata dan berbuat. Namun sebagai gambaran secara awam, penulis berikan begini: “Usahakan setiap berbuat jangan sampai menyinggung perasaan orang lain” titik. Dengan usaha itu, end tockh ada yang menafsir bukan-bukan, buktikan kenyataannya! Apakah yg menafsir bukan-bukan itu akan menerima pahalanya atau siapa? Karmapala sebagai patokan atau garis dari penegakan hukum kebenaran dan ke-1 adilan Tuhan Yang Mahaesa. Ketuhanan Yang Maha Esa itu merupakan sila Pertama dari Pancasila, mengapa? Coba tanya pada diri sendiri dan kemudian akan ada jawabannya.

Langkah itu telah dimulai sejak secara konskwen melaksanakan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 secara murni. Konskwensi tekad itu telah terjabarkan pada setiap rencana Pembangunan Bangsa ini. Oleh pemerintah Orde Baru sebagai pencetus tekad itu telah menunjukkan kesuguhannya wat hasil pembangunan. yg telah dilaksanakan melalui Pelita per Pelita.

Penulis kutif kalimat Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra yang merupakan pesan yg bunyinya begini; “Sala percaya kita sekalian dapat merasakannya dengan mencatat betapa pesatnya perkembangan kemajuan yg ada. Kemajuan itu tidak saja terarah untuk membangun jiwa dan raga Bangsa Indonesia itu, tetapi lebih jauh daripadanya adalah untuk membentuk dan memelihara keutuhan manusianya, wilayah, alam lingkungan serta kehidupannya”. ************

 

 

 

 

 

 

 

Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra ketika memberikan sambutan kepada para seniman di Gedung Jaya Shaba,12/9 kemarin. (Foto : Gede Pringgana).

 

 

Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra menyerahkan Anugrah kepada seniman seperti dala gambar deret atas dari kiri ke kanan. Pada gambar deret bawah dari kiri juara nasional pelajar teladan, juara ukir patung dan terakhir Wakil Ketua DPRD Bali, I Gusti Ngurah Sindya BA menyerahkan hadiah dan tanda penghargaan kepada Dokter teladan Bali. ( Foto : Gede Pringgana ).

Satu Tanggapan

  1. […] Kepribadian Tentukan Kehidupan Bangsa […]

silahkan tinggalkan pesan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: