• Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

    Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

Keunikan Pura Natar Jemeng Di Desa Penge Kabupaten Tabanan

KARYA-BHAKTI             MINGGU, 29 MARET 11981

Didalamnya Terdapat “Geria Jenar” Tumbuhnya Pohon Beringin

Persoalan yang unik-unik di daerah Bali ini cukup banyak, masing masing menpunyai kekhasan dan warna yang berheda-beda sesuai dengan keadaan dan tempatnya. Biasanya hal yang unik dan mistirius serupa itu kebanyakan terdapat disekitar pohon-pohon besar dan pura-pura.

Keunikan di Pura ,Natar jemeng Desa Penge Kabupaten Tabanan yang kalau disamakan dengan hukum didalam dunia nyata ini maka dipura tersebut terdapat hokum pidana.

Hukum yang berlaku di pura tersebut tidak tertulis dan tidak dapat di buktikan tapi dapat di rasakan terutama oleh orang-orang yang pernah berbuat tanpa mempercayai dan tidak mematuhi petuah para orang tua di sana.

Hukum tersebut memang tidak di buat oleh penduduk setempat. Tapi di buat oleh penguasa alam disekitar pura tersebut yaitu bangsa orang orang halus yang tidak bias dilihat oleh orang kotor, tetapi bias berkomunikasi langsung kepada orang yang bersih dalam artian mempunyai jiwa murni.

Hukum yang di rasakan oleh penduduk setempat adalah ” bila ada bagian dari kayu beringin jatuh karena tua dan mati, di pungut atau di ambil oleh orang biasa tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada orang halus disekitarnya, maka orang itu akan sakit setelah sampai di rumahnya”.

Didalam Pekarangan Pura Natar Jemeng itu terdapat sebuah pekarangan kecil disebut ” Geria Jenar” tempat tumbuhnya pohon beringin yang sekarang sudah besar dan rimbun menyejukkan Pura itu.

Begitulah keterangan yagn di terima penulis dari tujuh orang pemuka masyarakat Desa Penge yang menjadi pengempon pura tersebut, yang diceritakan dengan nada halus dan mengagumkan membuat bulu kalong berdiri tegak.

Mereka selanjutnya menceritakan, bahwa orang yang ingin mengambil mengambil kayu-kayu yang sudah jatuh itu yang sudah merupakan kayu api, terlebih dahulu harus memohon dulu kepada penguasa di sana.

Cara mengajukan permohonan harus disertai dengan ” Canang Sari” atau sesajen kecil dengan ucapan kata-kata ” saya mohon, hendaknya Tuhan tidak mengganggu keselamatan saya, walaupun saya mengambil reruntuhan cabang dan ranting pohon beringin ini. Kayu yang saya ambil ini adalah untuk kayu bakar yang lebih bermanfaat kalau dibandingkan dengan di biarkan tergeletak demikian saja”.

Asal sudah menyampaikan ucapan kata-kata itu sebagai tanda tujuan baik dan jujur atau terus berterang, maka tidak akan mengalami persoalan gangguan dari beliau-beliau atau orang-orang halus tersebut.

 

 

Mendidik Manusia

Tetapi apabila tidak dan dilandasi dengan keinginan untuk menentang maka bukan saja gangguan sakit yang dialami bahkan sampai menemui ajalnya.

Para pengempon tersebut mejelaskan kepada penulis, bahwa kenyataan-kenyataan yang seperti di ungkapkannya sudah pernah terjadi, sehingga mereka menjadi percaya adanya kekuatan gaib berbentuk hukum pidana di Pura tersebut.

Mereka mendapat, kekuatan Gaib di Pura tersebut juga membantu manusia didalam meluruskan perbuatan dan tindakannya dalam artian membiasakan diri untuk berbuat jujur dan bertanggung jawab. Menguasai milik orang lain harus didasari dengan suatu persetujuan dari empunya dan tidak bias mengandalkan suatu kekuatan phisik dan akal pikiran jahat, melainkan harus berdasarkan kekuatan hukum yang berlaku.

Bangunan Pura tersebut dikatakanya sudah ada sejak dulu dan merupakan warisan orang-orang tua jaman dulu, sehingga keadaan phisiknya sekarang sudah tua disamping terdapat banyak yang mengalami kerusakankerusakan.

Pemerintah daerah Tingkat I Bali yang kiranya tidak mau dikecam kurang memperhatikan kerusakan bangunan-bangunan pura di Bali termasuk bangnan Pura Natar Jemeng tersebut, maka teleh di bantu dengan biaya perbaikan sebesar Rp satu juta yang diambilkan dari APBD Tingkat I Bali tahun 1980/1981.

Selain itu, ketika Gubernur dan rombongan mengadakan kunjungan kerja di Kabupaten Tabanan sempat bertatap muka dengan masyarakat pengempon pura tersebut. Gubernur memberikan bantuan rangsangan kepada mereka sebesar Rp.150.000,- sebagai perangsang.

Acara piodalan

Acara piodalan didalam pura tersebut biasanya diselenggarakan setiap enam bulan sekali setiap “Bude Cemeng Merakih” atau setiap hari Rabu yang diselenggarakan dengan cukup meriah karna pengemponnya cukup banyak.

Orang-orang lain pengempon juga sering datang ikut memeriahkan pelaksanaan upacara terse but. karena diperkirakan mereka telah mendapatkan sesuatu dari penguasa pura tersebut.

Acara piodalan menjadi cukup ramai karma dimeriahkan dengan tari tarian tradisional dan termasuk jenis tani sakral.

Dentikianiah ceritera-ceritera Bari tokoh-tokoh pengempon pura Natar Jemeng yang dapat disadap penulis baru-baru ini. Bagi pembaca, percaya atau tidak terhadap penjelasan tokoh tokoh pengempon Pura itu akan tidak menjadi suatu problim apa-apa. sehingga segala sesuatunya terserah pembaca masing-masing.(Gede Pringgana).

 

Satu Tanggapan

  1. […] Keunikan Pura Natar Jemeng Di Desa Penge Kabupaten Tabanan […]

silahkan tinggalkan pesan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: